READING

Wahai KPAI, Eksploitasi Anak Tak Cuma Di Bulu Tang...

Wahai KPAI, Eksploitasi Anak Tak Cuma Di Bulu Tangkis Loh

KEDIRI – Belakangan ini sedang ramai perseteruan antara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Djarum Foundation, perihal audisi Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum yang ditenggarai KPAI mengekploitasi anak-anak. PB Djarum sendiri adalah sedikit dari sekian banyak perusahaan swasta yang masih konsisten dengan program pencarian bakat dan pembibitan atlet nasional. Untuk prestasi, jangan ditanya lagi. Dari perkumpulan yang telah berdiri sejak tahun 1969 ini, kita mengenal para legenda bulu tangkis dunia seperti Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, hingga Alan Budikusuma. Kok ndilalah pemilik PB Djarum ini adalah juga pemilik salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, yaitu PT Djarum. Disitu letak permasalahannya. KPAI mengklaim adanya eksploitasi anak karena setiap atlet yang bernaung di PB Djarum, berkewajiban mengenakan seragam berlogo Djarum Badminton Club yang identik dengan merek rokok. PB Djarum kadung pundung. Mereka berencana menghentikan program audisinya di tahun 2020. KPAI boleh jadi benar. Tapi apakah KPAI punya solusi alternatif seperti yang dilakukan PB Djarum? Apakah KPAI juga garang di tempat lain dalam memerangi eksploitasi anak?  

Suasana latihan di sebuah sekolah modelling.

Saya punya salah satu film favorit, berjudul “Little Miss Sunshine”.

Film yang mendapatkan 4 nominasi di ajang Oscar tahun 2007 ini, menceritakan tentang sebuah keluarga disfungsional yang disatukan karena tujuan yang sama, yaitu mengantarkan anggota keluarga terkecil mereka, Olive (diperankan dengan menggemaskan oleh Abigail Breslin), mengikuti kontes kecantikan khusus untuk anak, Little Miss Sunshine. Selain cerita tentang carut-marut dan kegilaan keluarga tersebut selama di perjalanan, film ini juga menyampaikan sindiran terhadap kontes kecantikan yang diikuti Olive, dimana pesertanya harus bersikap layaknya ratu kecantikan dan berdandan ataupun berperilaku seperti orang dewasa agar dapat memenangkan kontes tersebut.

Seorang model cilik sedang menunggu giliran tampil.

Film tersebut mengingatkan saya dengan salah satu program stasiun televisi kita. Sebuah reality show yang sempat tayang beberapa episode, hasil adaptasi film diatas, bernama “Little Miss Indonesia”. Acaranya pun dibuat mirip, yaitu ajang pencarian bakat dengan cara menampilkan kebisaan anak-anak di atas panggung, entah itu menyanyi, menari, akting, atau memainkan alat musik. Namun alih-alih sebagai ajang pencarian bakat, Little Miss Indonesia justru terlihat sebagai ajang pengeksploitasian anak. Di saat acara grand final, acara yang digandrungi banyak pemirsa televisi ini, menampilkan salah satu finalis bergaya bicara bak Syahrini, mendesah dan menggoda. Ironisnya, hampir semua penonton tertawa oleh tingkah laku si anak, begitu juga dengan para juri dan ibu dari anak tersebut. Semua juri akhirnya sepakat bahwa si anak memiliki bakat akting hebat (?), hingga akhirnya dinobatkan menjadi Little Miss Indonesia. Ibu si anak pun bangga luar biasa putrinya bisa memukau banyak orang.

Lenggak-lenggok salah satu model cilik (?).

Syukurlah acara tersebut kini tak ada lagi. Tapi jangan senang dulu ya, karena acara sejenis sebenarnya akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.

Acara seperti pemilihan “putri-putrian” sebenarnya sering kita jumpai di sekeliling kita. Seperti yang terjadi di kota saya sendiri, yaitu Kediri. Kota kecil di Jawa Timur yang tumbuh pesat, ditandai dengan adanya beberapa pusat perbelanjaan besar yang dibangun menyesaki kota. Demi untuk meramaikan pusat perbelanjaan, pengelola kerap mengadakan acara kontes-kontesan. Berbalut pemilihan model  dan fashion show untuk anak, panitia dan sponsor mengeruk keuntungan dari para orang tua yang berbondong-bondong mengikutsertakan anaknya, berapapun biayanya. Berdalih agar anaknya bisa berprestasi dan terkenal, orang tua kadang “Khilaf”. Saking semangatnya, mereka kadang mendandani anak mereka dengan pakaian yang tak sesuai dengan usianya dan mengajarkan mereka untuk berlenggak-lenggok seperti laiknya model dewasa.

Hilang sudah kelucuan mereka, lalu sebenarnya untuk siapakah kebanggaan itu, untuk si anak atau orang tua?

Ruang tunggu orang tua dan anak-anak yang akan tampil di panggung. Tersedia hiburan Upin-Ipin juga di televisi.

Pengertian eksploitasi anak adalah tindakan memanfaatkan anak secara sewenang-wenang yang dilakukan dengan memaksa anak melakukan sesuatu tanpa memperdulikan jenjang pertumbuhan mental dan fisiknya. Kadang ambisi dan keinginan orang tua-lah yang lebih dominan dalam mendorong anak-anak untuk tampil dalam ajang kontes-kontesan tersebut. Tanpa sadar, mereka telah merampas masa kanak-kanak anak mereka sendiri. Anak dituntut mengikuti keinginan orang tua tanpa menyesuaikan tahapan masa tumbuh kembang anak. Sehingga anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Anak-anak diharuskan menjalani sesuatu yang mungkin mereka sendiri tidak tahu apa manfaatnya, Padahal anak-anak berhak untuk bisa bermain dan berkegiatan dengan gembira, tanpa ada tekanan atau paksaan.

Biarlah anak-anak menikmati masa kecilnya dengan semestinya.

Selain itu juga, di saat kejahatan seksual terhadap anak sedang marak di negara kita, keperpihakan kita terhadap perlindungan anak kembali dipertanyakan. Apabila sebagai orang tua kita justru dengan sukarela menyodorkan anak kita ke ruang publik dengan tampilan seronok, bahkan turut merayakannya dalam acara kontes-kontesan tersebut.

Lantas dimana nih peran KPAI?

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.