READING

Wali Kota Risma: Kota Surabaya Tidak Akan Lockdown...

Wali Kota Risma: Kota Surabaya Tidak Akan Lockdown, Protokol Ini yang Dilakukan

SURABAYA- Wali Kota Surabaya,Tri Rismaharini memastikan bahwa Kota Surabaya tidak akan lockdown sebab dampak ekonominya akan sangat fatal. Makanya, Pemkot Surabaya terus menggalakkan pencegahan penularan virus ini.

“Saya selalu sampaikan bahwa Surabaya tidak akan lockdown, karena kalau lockdown, ekonominya bisa kolap dan itu bisa lebih berat. Apalagi kan tidak semua orang pendapatannya dihitung per bulan, ada yang harian. Makanya saya sampai melakukan rapat koordinasi seperti sekarang ini,” kata Risma ketika menggelar rapat koordinasi dengan berbagai pemangku kebijakan untuk mencegah penularan virus Covid-19 di Graha Sawunggaling, Senin (16/3/2020). Rapat koordinasi itu dihadiri oleh perusahaan transportasi, pengusaha mal, hotel, tempat hiburan, dan berbagai intansi lainnya di Kota Surabaya.

Sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan pasal 53, 54, dan 55 menjelasskan bahwa syarat pelaksanaan lockdown harus ada penyebaran penyakit di antara masyarakat dan harus dilakukan penutupan wilayah untuk menangani wabah ini. Wilayah yang dikunci dikasih tanda karantina, dijaga oleh aparat, anggota masyarakat tidak boleh keluar masuk wilayah yang dibatasi, dan kebutuhan dasar mereka wajib dipenuhi oleh pemerintah (sumber: ttps://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/175564/UU%20Nomor%206%20Tahun%202018.pdf)

Menurut rilis yang diterima redaksi Jatimplus.ID, rapat koordinasi kali ini tampak berbeda dari biasanya. Sebelum masuk dan naik ke ruang rapat, para peserta dicek suhu tubuhnya, lalu diberikan masker dan juga diberi hand sanitizer. Semua peserta yang ikut dalam rapat koordinasi menggunakan masker dan kursi duduknya juga sudah diatur, berjarak sekitar 1 meteran.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma meminta kepada semua pemangku kebijakan untuk membuat protokol pencegahan Covid-19 di area masing-masing. Menurutnya, ini sangat penting untuk menekan penularan virus.

“Sebenarnya memang disarankan untuk tidak mengadakan pertemuan, tapi saya harus lakukan ini supaya mereka membuat protokol di sekitar mereka masing-masing, sehingga diharapkan pencegahannya bisa lebih efektif,” kata Wali Kota Risma.

Risma yang juga Presiden UCLG ASPAC (The United Cities and Local Governments Asia Pacific) menjelaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah membuat beberapa protokol untuk mencegah virus tersebut. Salah satunya membiasanya cuci tangan saat hendak masuk kantor, di tempat umum harus disediakan thermo scan, karpet di masjid dan mushola harus digulung.

Ia mencontohkan, di hotel-hotel dan mal diharapkan sudah menyediakan thermo scan dan hand sanitizer. Di samping itu, ia juga mencontohkan prokol yang bisa diberlakukan bagi karyawan yang kondisinya panas dan ada gejala Covid-19, diharapkan dengan kesadaran dirinya langsung istirahat di rumah supaya tidak menyebarkan virus.

Pemkot juga memberikan hand sanitizer kepada beberapa instansi dan perkantoran. “Kami juga akan terus melakukan disinfektan ke beberapa tempat. Ini sudah bergerak mulai dari Balai Kota,” kata Risma.

Warga Kota Surabaya juga diminta untuk mematuhi segara protokol yang telah dibuat di setiap instansi atau perkantoran mereka masing-masing. Hal ini akan sangat membantu dalam mencegah penularan virus.

“Mari kita hadapi ini bersama-sama. Warga juga tidak perlu khawatir dengan kebutuhan pokoknya sehari-hari, karena kami juga terus melakukan pasar murah untuk mencukupi kebutuhan warga,” kata Risma.

Sementara itu, Ketua Tim Penere (Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging) RSUD Dr Soetomo, Dr. Sudarsono, yang memberikan materi pada rapat koordinasi itu menjelaskan bahwa berbagai langkah yang telah dilakukan Pemkot Surabaya sudah sangat bagus untuk mencegah penularan Covid-19 itu. Bagi dia, gerakan-gerakan semacam ini sudah strategis dengan menghadirkan semua orang, sehingga mudah-mudahan kalau ini diterapkan dengan baik bisa mencegah penularannya di Kota Surabaya.

“Kalau nanti sudah terbentuk protokol-protokolnya, maka warga harus bisa mengikuti protokol ini. Gerakan semacam ini dan upaya hidup sehat itu harus dilakukan mulai dari jajaran yang paling tinggi hingga masyarakat, sehingga diharapkan kita bisa seperti China yang berhasil menekan penularan Covid-19 ini,” kata Dr. Sudarsono (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.