READING

Wapres Ma’ruf Amin ke Jombang, Mahasiswa Gagal Tur...

Wapres Ma’ruf Amin ke Jombang, Mahasiswa Gagal Turun ke Jalan

JOMBANG– Sekretariatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jombang Komisariat Tashwirul Afkar Tambakberas Jombang pagi Kamis (23/1) disambangi puluhan pria berambut cepak dan berbadan tegap. Puluhan orang ini menunggui komisariat HMI hingga berjam-jam lamanya. Akibatnya, tuntutan mahasiswa kepada Wapres KH Ma’ruf Amin yang  ke Jombang untuk membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, tidak tersampaikan.

Menurut Ketua HMI Komisariat Tashwirul Afkar Tambakberas M Choirurojikin sejak empat hari terakhir dirinya dihubungi sejumlah pihak yang mengaku dari aparat TNI dan kepolisian. Mereka menanyakan tentang rencana aksi turun jalan HMI Tashwirul Afkar saat kunjungan Wakil Presiden.

 RI 2 dijadwalkan membuka Santri Digital Fest dan Rakernas IPPNU di gedung serbaguna KH Hasbullah Said milik Pesantren Bahrul Ulum. Penanggung jawab acara ini adalah Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab.

Pria yang akrab disapa Oji ini menyebutkan jika pihaknya memang ingin turun jalan saat RI 2 datang ke Jombang. Isu yang diangkat yaitu tentang lemahnya penanganan korupsi era Jokowi-Ma`ruf, tuntaskan kasus Munir dan segera selesaikan kasus kekerasan perempuan di Jombang.

Bagi kader HMI, KPK saat ini lebih lemah dari sebelumnya. Hal ini terlihat saat gagalnya KPK menangkap Harun yang menyuap Komisioner KPU Wahyu Setyawan beberapa waktu lalu. Sehingga butuh ketegasan dari Jokowi-Ma’ruf Amin dalam penguatan KPK.

“Kita sudah lakukan kajian mendalam tentang isu korupsi, kita simpulkan untuk aksi saat RI 2 ke Jombang,” kata Oji kepada Jatimplus.ID.

Opsi pertama adalah  memberikan langsung isi tuntutan kepada RI 2 saat tiba di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Jika opsi ini gagal, maka kader HMI akan berdiri di pinggir jalan yang akan dilewati oleh wakil presiden.

Menyikapi rencana aksi HMI ini, aparat keamanan tak tinggal diam. Hampir setiap hari mereka menghubungi kader HMI, setidaknya lebih dari lima kader yang dikontak terus menerus selama 4 hari sebelum wapres tiba di Jombang.

Tidak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Jombang juga berusaha mencegah aksi HMI turun ke jalan. Sekretaris Daerah Jombang mengundang HMI, GMII dan PMII untuk datang ke kantor Bangkespol. Di tempat ini sudah hadir perwakilan dari Pemkab Jombang, TNI dan Polri.

Dalam pertemuan itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jombang Fakhrudin Widodo di hadapan mahasiswa menyampaikan alasan utama agar tak demo adalah untuk tidak mencoreng nama baik Jombang. “Tulis saja pesannya. Nanti bupati yang menyampaikan ke pak wapresnya karena ada kedekatan seperti kayak keluarga, pak wapres juga sedang kurang enak badan,” ucapnya.

Permintaan kader HMI untuk bisa ketemu wakil presiden sekitar 3-5 menit yang disampaikan saat pertemuan ditolak dengan alasan jadwal sudah ditata rapi dan kondisi Ma`ruf Amin sedang kurang enak badan. Namun para mahasiswa tetap pada pendirian bisa bertemu langsung dengan wapres untuk menyampaikan aspirasi.

Gagal membujuk, aparat lantas menggandeng kader senior HMI untuk melunakan hati para juniornya agar aksi dibatalkan. Oji mengaku sangat kecewa dengan sikap seniornya itu. Tak hanya melalui kader senior, aparat juga menggandeng pihak Pesantren Bahrul Ulum agar aksi turun ke jalan tidak dilakukan. Oji pun mengaku sempat disidang oleh pengurus pesantren.

Narasi yang dibangun lewat media sosial juga tak kalah kerasnya. Narasi itu dibangun seolah-olah peserta aksi adalah santri nakal, pembangkang, dan membuat rusuh Jombang. Narasi ini juga dibagikan lewat story Whatshap. Rencana aksi ini pun dituduh ditunggangi oleh pihak tertentu.

Puncaknya adalah pada hari kedatangan Wapres Ma’ruf Amin, Sekretariat HMI Tashwirul Afkar pagi-pagi didatangi dan dijaga oleh sekitar 20an orang berbadan tegap.

“Mahasiswa HMI yang terpelajar dan notabane punya jaringan seluruh Indonesia masih dihalang-halangi saat bersuara apalagi rakyat kecil. Tak terbayang betapa suramnya hak menyatakan pendapat di depan umum di Indonesia,” keluh Fafiruillallah yang saat itu berada di sekretariat.

“Kita sudah siap aksi, pamflet juga sudah disebarkan, pasukan yang turun juga sudah konfirmasi. Tapi pas hari H kita dipecah-pecah dan dijaga ketat,” tandasnya.

Reporter: Syarif Abdurrahman
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.