READING

Warga Trenggalek Tukar Sampah Dengan Buku

Warga Trenggalek Tukar Sampah Dengan Buku

Di mata Dyah Ayu Puspitasari, sampah tak ubahnya gunungan emas. Melalui sampah dia membeli buku bacaan untuk warga Trenggalek agar tak ketinggalan informasi.

TRENGGALEK – Jika biasanya sampah banyak dibuang langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar, Dyah melakukan hal berbeda. Limbah rumah tangga itu dipilah dan dijual untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. “Hasilnya penjualannya kami belikan buku-buku,” terang Dyah kepada Jatimplus.ID, Rabu 13 Nopember 2019.

Menamai dirinya komunitas Donasi Sampah Untuk Literasi, Dyah dan beberapa remaja di Kabupaten Trenggalek bergerak mengumpulkan sampah layak jual dari warga. Teknisnya, mereka memberikan dua jenis tempat sampah di setiap rumah untuk memilah sampah organik dan anorganik.

baca juga: Berkunjung ke Tebuireng Wamen Agama Jelaskan UU Pesantren

Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi seperti plastik dan besi dijual kepada pengepul. Sedangkan sampak organik sebagian diolah menjadi kompos. Kompos ini juga dijual kembali kepada masyarakat yang membutuhkan untuk bercocok tanam. “Semua keperluan seperti pengadaan sumber bacaan bertema ekologi hingga tempat sampah dibeli dari hasil penjualan sampah,” terang Dyah.  

baca juga: Didik Nini Thowok Titisan Centini

Dia menuturkan, mengawali gerakan seperti ini bukan hal mudah. Setelah sukses membuat kesepakatan dan komitmen dengan para remaja yang menjadi relawan, gerakan ini disosialisasikan kepada masyarakat dengan nama Donasi Sampah Untuk Literasi. Mereka juga membuat komitmen yang tak boleh dilanggar jika ada anggota komunitas yang menabrak aturan. Salah satu sanksinya adalah melakukan kegiatan pro ekologi seperti membuat ecobrik menggunakan sampah botol air mineral.

baca juga: Sumber Bulus Tosaren Kediri dan Legenda Panji

Apa itu donasi sampah untuk literasi? Dyah Ayu yang menjadi penggagas program tersebut menerangkan, gerakan ini merupakan gerakan sadar lingkungan berbasis literasi. “Kami ajak masyarakat untuk sadar lingkungan melalui literasi terlebih dahulu,” terangnya.

Berawal dari dua desa, yakni Desa Salamrejo dan Desa Karangan di Kecamatan Karangan, mereka mengkampanyekan cinta lingkungan kepada keluarga terdekat. Gerakan ini dimulai sekitar tahun 2015, dan baru terbentuk secara formal pada 20 Mei 2018. Sejak itu pula mereka gencar melibatkan warga dalam upaya ekologi itu.

Tak serta merta mengajak memilah dan menjual sampah, mereka mengawali gerakan ini dengan mendekatkan kebiasaan membaca pada masyarakat. Dengan membaca, masyarakat memperoleh informasi mengenai energi terbarukan, pentingnya menjaga ekosistem, dan mengerti cara mengolah limbah dengan benar.

“Karena itulah di komunitas kami konsen menyediakan fasilitas belajar mengenai isu lingkungan untuk masyarakat. Salah satu caranya mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM),” ujar mahasiswi yang juga konsen pada ekologi sastra ini.

Pola aktivitas di TBM ini bermacam-macam. Selain membaca dan menulis, mereka juga mengadakan bedah buku hingga pelatihan menulis puisi dan  artikel bertemakan ekologi. Tak hanya itu, beberapa kegiatan yang bersifat penyuluhan dihadirkan sebagai kegiatan mingguan. Salah satunya adalah penyuluhan pembuatan kompos.

Hingga saat ini gerakan donasi sampah untuk literasi terus berjalan di Trenggalek. Virus ini diharapkan menular ke daerah lain, sekaligus menjadi solusi persoalan lingkungan.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.