Waspada Cikar Jadi-jadian

Jam beker di kamar Kunto berdering kencang sekali. Anehnya, jam yang berada tepat di samping tempat tidur itu tak menggerakkan tubuh Kunto sama sekali. Remaja kelas 10 sekolah menengah atas di Kota Kediri ini justru tenggelam dalam tidur yang makin pulas.

“Pancen anakke gendruwo, jam sakmunu bantere ra tangi. Tak guyang banyu po piye”, teriak ibunya dari ruang tamu.

Aneh bin ajaib. Teriakan ibunya dari luar kamar langsung membangunkan Kunto. Padahal suara perempuan itu tak didukung dua batrei Alkaline seperti jam bekernya.

Setelah membasuh muka di kamar mandi, Kunto mengganti celana boxernya dengan celana jeans. Demikian juga kaos oblongnya. Dengan masih menutup mata, Kunto berjalan keluar kamar menghampiri ibunya.  “Kowe kie gendeng ta le, dasterku nyapo kok digawe,” teriak ibunya lebih kencang.

Kunto tersentak. Matanya mendelik saat mengetahui daster bergambar Hello Kitty bertengger di tubuhnya. Rupanya dia salah ambil saat hendak mengganti kaos dengan sweater. Buru-buru dilepasnya daster warna pink itu.

Usai mempersiapkan diri, Kunto menunaikan misi pentingnya, menjemput sopir ke Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto. Bapaknya yang anggota DPRD  hendak ke Surabaya mengikuti rapat partai. Dari rumahnya di Kecamatan Kandat, jarak menuju Mojoroto lumayan jauh. Karena itu dia diminta berangkat sebelum adzan Subuh.

Memakai jaket tebal dan helm teropong, Kunto menyalakan sepeda motornya. Dia harus memburu waktu agar tiba di Mojoroto secepatnya. Agenda rapat bapaknya tak bisa ditunda.

Sebelum berangkat, bapaknya buru-buru menghampiri. “Le, nek lewat kuburan ngarep uluk salam karo ngebel. Biasane enek sing membo-membo (menyaru) wong liwat opo cikar. Kuwi demit, nek tatak tabraken ae,” pesan bapaknya dengan wajah serius.

Tanpa melepas helm, Kunto menganggukkan kepala dan melesat cepat meninggalkan rumah. Sepeda motornya dikebut menyusuri jalan raya Kediri – Blitar yang masih lengang.

Lima ratus meter mendekati area kuburan, Kunto mengurangi laju motornya. Dia teringat pesan bapaknya. Jalanan di depan kuburan cukup gelap oleh kabut yang pekat. Lamat-lamat dia melihat sebuah benda besar bergerak perlahan di jalan. “Opo iki sing dimaksud bapak soal demit kuwi,” pikir Kunto.

Tak ingin terlambat menjemput sopir, Kunto membulatkan tekat. Dengan mengucap Bismillah, dia memacu motornya lebih kencang untuk melibas benda hitam tersebut. Braaaakkkk………!!!

Untuk sesaat Kunto tak ingat apa-apa. Matanya gelap. Rasa sakit menjalar dengan cepat dari tangan dan kakinya. Dia menyadari telah terlentang di atas aspal dengan tubuh tertindih motor.

“Kowe gak opo-opo? Lha cikar mlaku kok ditabrak,” kata pria berpeci sambil mengangkat motornya.

Kunto baru menyadari jika benda hitam yang ditabrak adalah cikar, alat transportasi tradisional yang dikendalikan sapi. Bukan makhluk halus yang berkamuflasi menjadi makhluk jadi-jadian.

Oalah leee………….

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.