READING

Wilayah Selingkar Wilis, Miskin tapi Bahagia

Wilayah Selingkar Wilis, Miskin tapi Bahagia

KEDIRI- Hal ini disampakan oleh Prof. Candra Fajri Ananda, akademisi dan anggota supervisi Bank Indonesia  dalam Seminar Nasional dan BI Kediri Award 2019. Acara yang digelar di Kediri (16/12/2019) bertema Sinergi dan Inovasi: Memacu Geliat Ekonomi Wilayah Selingkar Wilis ini mengungkapkan analisa tentang pertumbuhan ekonomi di kawasan Selingkar Wilis.

“Derajad Otonomi Fiskal (DOF) di Selingkar Wilis ini di level rendah dan sangat rendah. Tapi uniknya, indeks kebahagiaannya tinggi. Jadi bisa dikatakan, miskin tapi bahagia,” kata Candra.

Dalam paparannya, Candra menampilkan data bahwa DOF (prosentasi dari Pendapatan Asli Daerah per Pendapatan Daerah) 2018 untuk Wilayah Selingkar Wilis berada di level 0,01-10 (sangat kurang) dan 10,01-20,00 (kurang).

Hal ini berkebalikan dengan indeks kebahagiaan (data tahun 2017) dan indeks kepuasan hidup (data tahun 2018) yang tinggi. Indeks kebahagiaan untuk masyarakat perkotaan sebesar 72,01 dan pedesaan di angka 69,49. Sedangkan indeks kepuasan hidup masyarakat perkotaan di level 68,64 (personal) dan 76,76 (sosial). Masyarakat pedesaan memiliki indeks angka kepuasan hidup  74,55 (personal) dan 76,69 (sosial).

Candra mengatakan, salah satu penyebabnya adalah inflasi di Selingkar Wilis tergolong rendah sehingga berpengaruh pada indeks kepuasan hidup dan indeks kebahagiaan.

“Oleh sebab itu, Pak Wagub mengatakan pada saya, harus ada breakthrough untuk mengatasi kondisi ini,” kata Candra.

Proyek Selingkar Wilis merupakan proyek prioritas di Provinsi Jawa Timur. Sebuah konsep pembangunan terpadu yang mengoptimalkan potensi budaya dan ekonomi terutama potensi agrowisata di kawasan Gunung Wilis meliputi: Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ponorogo. Trase jalan dari proyek yang membentang sepanjang 235.524km tersebut diharapkan dapar mempermudah mobilitas barang dan jasa.

Hanya saja, seperti amatan Candra, ketimpangan masih terjadi di wilayah ini dibandingkan kabupaten lain di Provinsi Jawa Timur. Kawasan Selingkar Wilis yang notabene berada di wilayah “selatan” tertinggal dengan wilayah “utara” yang terdiri dari kota-kota yang lebih tinggi DOF-nya.

Candra menganalisa, selain DOF yang kurang dan sangat kurang, ironisnya bahwa angka pengangguran disumbang oleh lulusan SMK yang seharusnya menjadi tenaga kerja yang siap pakai. Penyebabnya, tenaga kerja SMK ini tidak terserap oleh industri di Jawa Timur yang menurun pengembangannya.

“Penyebabnya salah satunya, tenaga kerja di Jawa Tengah lebih murah sehingga pertumbuhan industri bergeser ke sana. Selain juga gubernur di sana sangat agresif menggaet investor,” terang Candra.

Dalam hal pengembangan wisata, ada hal yang perlu digarisbawahi oleh Candra bahwa pengembangan wisata harus bersifat partisipatoris dari warga.

“Hindari adanya monopoli dan oligopoli,” terang Candra. Monopoli dan oligopoli swasta akan mengakibatkan PAD tidak bergerak sehingga tak ada peningkatan DOF.

Ia mencontohkan kesuksesan Banyuwangi dalam mengembangkan pariwisata. Di Kabupaten Banyuwangi, pertumbuhan pariwisata diikuti dengan peningkatan PAD. Masyarakat dari berbagai lapisan turut mendapat peningkatan kesejahteraan. Misalnya di Banyuwangi ada aturan bahwa investor besar tidak boleh mendirikan hotel kelas melati yang akan merebut pasar guest house warga.

Selain itu, Candra juga mencontohkan pengembangan wisata di Uluwatu (Bali) ketika dipegang oleh Pemda, setoran ke Pemda Badung sekitar Rp. 6 M- Rp. 7 M. Ketika dikelola oleh desa, setoran ke Pemda Badung justru meningkat hingga Rp. 12 M.

Pembangunan infrastruktur di kawasan Selingkar Wilis juga berpengaruh pada solusi (breakthrough) yang diinginkan Emil Dardak, Wakil Gurbernur Jawa Timur yang menjadi pembicara kunci pada seminar kali ini. Isu yang paling hangat tentang pembangunan Bandara Kediri. Menurut Emil, rekomendasi tata ruang bakal segera dipastikan. Ia bersama dengan Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno berkoordinasi dengan Kementerian Agraria Tata Ruang (ATR) terkait dengan rekomendasi tata ruang. Rencananya mulai tahun 2020 sudah bisa dibangun. Total seluruh luas lahan Bandara Kediri mencapai 450 hektar. Lahan bandara ini tersebar pada 4 desa di Kecamatan Banyakan, Grogol, dan Tarokan (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.