Wisata Planet Jadul Kayutangan Malang

MALANG – Libur telah tiba.. libur telah tiba! Tiba-tiba saya mendendangkan lagu lawas milik Tasya Kamila, saat tahu kalau mulai minggu ini, anak-anak sekolah libur kenaikan kelas. Saatnya bagi ayah teladan mengecek saldo tabungan atau mengintip kartu kredit dalam dompet untuk persiapan mengajak anak-anak liburan keluar kota. Tapi kalaupun terbentur biaya tinggi, ada alternatif wisata yang murah tapi tak kalah meriah, bahkan mempunyai nilai edukasi. Yaitu berkunjung ke kampung-kampung wisata yang kini kian marak di banyak tempat. Salah satu yang terbaru di Kota Malang adalah Kampung Heritage Kayutangan, yang baru saja buka di bulan April tahun 2018.

Salah satu gang yang menjadi pintu masuk menuju Kampung Heritage Kayutangan.

Saya baru kelar menonton episode terakhir dari “Game of Thrones”, film saga keluaran HBO tentang kisah perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan yang penuh darah, ksatria, naga, seks, dan mayat hidup. Ya, anda akan berjumpa dengan mayat hidup di film televisi fenomenal ini. Saya tak akan bercerita tentang film yang telah tayang selama 8 tahun di saluran televisi berbayar tersebut. saya hanya ingin mengutip perkataan Tyrion Lannister yang terngiang-ngiang hingga saat saya mengetik artikel ini. Tyrion, sang ahli strategi, di saat pelantikan Bran Stark sebagai King of Westeros, berucap “There’s nothing in the world more powerful than a good story” Tidak ada di dunia ini yang melebihi kekuatan sebuah cerita yang bagus…  

Mas Iink, salah satu pengelola Kampung Heritage Kayutangan yang juga pengkoleksi benda-benda vintage yang berprofesi sebagai fotografer dan pemilik spot swafoto.

Saya mengamini quote diatas saat mendengar cerita dari Mas Iink, salah satu pengelola Kampung Heritage Kayutangan Malang. “Modal yang paling penting dari terciptanya kampung wisata adalah kampung itu harus mempunyai cerita yang menarik, bisa tentang sejarah ataupun sesuatu yang menarik yang dipunyai kampung tersebut,” Papar pria kolektor benda-benda jadul yang juga menyediakan rumahnya untuk ajang swafoto para pengunjung ini. Jaman dulu, kampung ini masih berupa hutan. Alkisah hutan tersebut pernah menjadi tempat persembunyian Ken Arok remaja, saat sedang dicari-cari oleh prajurit suruhan Tunggul Ametung. Salah satu areanya dikenal dengan sebutan “Patangantangan” yang memiliki kata dasar tangan, merujuk nama sejenis pohon kayu yang memiliki cabang seperti tangan manusia saat dibentangkan ke kiri maupun kanan. Wilayah tersebut akhirnya dikenal dengan nama Kayutangan.

Salah satu gang di Kampung Kayutangan yang terjaga kebersihannya.

Di masa pemerintahan kolonial Belanda akhir 1800-an, Kayutangan merupakan jalan besar penghubung wilayah Malang dengan berbagai daerah di sebelah utara seperti Surabaya dan Pasuruan. Batas wilayahnya adalah pertokoan seberang Gereja Hati Kudus Yesus hingga ke pertigaan bundar depan kantor PLN. Kini jalan besar tersebut bernama jalan Basuki Rahmat. Setelah kota Malang resmi berdiri kala itu, Kayutangan semakin berkembang dan menjadi pusat perdagangan. Di sepanjang jalan terdapat berbagai macam pertokoan dan perkantoran yang berjajar membentuk area elit di masa itu. Banyak warga Eropa menjadi pedagang dan pegawai yang kemudian membuat rumah di kampung-kampung dekat jalan besar tersebut, yang akhirnya menjadi cikal bakal tumbuh kembangnya wilayah yang kini menjadi area wisata Kampung Heritage Kayutangan. 

Rumah milik H. Moch. Djazuli, salah satu punden atau orang yang pertama kali menempati kawasan Kayutangan ini.

Siapa sangka, awalnya kampung Kayutangan sebenarnya ingin dikonsepkan sebagai kampung religi, mengingat di kampung ini terdapat makam Pangeran Honggo Kusumo atau dikenal dengan nama Mbah Onggo, keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit sekaligus guru spiritual keluarga Bupati pertama Malang, yaitu R.A.A Notodiningrat. Namun karena tidak ingin wilayahnya disakralkan dan menjadi jujugan orang mencari berkah, warga kemudian memilih heritage sebagai tema kampung wisata mereka. Tepat rasanya memilih tema tersebut, mengingat sejarah panjang kampung ini sebagai kampung perkotaan pertama di kota Malang dengan rumah-rumah jadul yang masih terawat bangunannya. Selain itu dari sisi keunikan tema menjadikan kampung ini terlihat menonjol dibanding kampung wisata lainnya yang sekedar latah mengikuti tema kampung wisata yang sudah ada.

Keunikan Kampung Wisata Kayutangan adalah suasananya yang serba jadul atau vintage.

“Kami tidak ingin plagiat atau meniru tema kampung lainnya,” Tegas Mas Iink. “Karena kami percaya dengan daya tarik kampung sendiri yang mempunyai cerita dan bangunan bersejarah yang unik.” Kampung yang meliputi 3 wilayah RW (Rukun Warga) yaitu RW 1, 9, dan 10 ini, memiliki sekitar 20 rumah yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya. Salah satu yang menonjol adalah rumah milik Bapak Nur Wasil yang konon adalah rumah tertua di kampung ini, yaitu dibuat tahun 1870. Desainnya bergaya kolonial dengan pintu, jendela dan sirap teras yang khas. Yang membedakan rumah kawasan ini dengan Jalan Ijen Malang walaupun sama-sama bergaya kolonial adalah, kalau di Ijen rumah-rumahnya besar dan megah, sedangkan di Kayutangan kecil khas kampung, rapat dengan tetangga kiri kanan dan berada di gang-gang sempit.

Kampung ini menjadi surga bagi pengunjung penggila foto selfie, karena banyak tempat Instagramable bertebaran di area ini.

Daya tarik Kampung Heritage Kayutangan adalah selain kita bisa berwisata sejarah dengan menikmati keindahan rumah-rumah jadul, kita juga bisa berswafoto dengan background dan properti bergaya vintage yang banyak bertebaran di sepanjang area wisata. Cukup dengan merogoh kocek 5000 rupiah, kita akan mendapat peta, postcard, dan akses untuk menjelajahi seluruh sudut kampung. “Entertaint itu yang paling utama dulu, supaya orang mau berkunjung kesini. Setelah itu baru dikenalkan sisi edukasi sejarahnya. Makanya kami menyediakan banyak tempat yang instagramable disini.” Kata Mas Iink. “Dengan banyaknya pengunjung, otomatis pemasukan dari ticketing banyak dan bisa kita manfaatkan untuk kebersihan dan pengadaan prasarana seperti lampu jalan dan spot swafoto.” Lanjutnya. “Disini kami swadaya.” Hebat. Tabik buat warga.

Tak hanya bagian luar, rumah-rumah di Kampung Kayutangan juga memiliki interior dalam rumah yang terjaga kejadulannya.

Lantas adakah peran pemerintah, khususnya pemerintah Kota Malang? “Oh besar sekali.” Jawab Mas Iink. “Dengan Pokdarwis (kelompok sadar wisata) pimpinan Pak Rizal Fahmi, kami mendapatkan pelatihan UMKM untuk pembuatan makanan tradisional dan batik. Selain itu juga ada bimbingan bagaimana cara mengelola kampung wisata dengan benar. Pemerintah juga hadir untuk menjembatani antara kami dengan pihak perusahaan yang ingin melakukan CSR (Corporate Social Responsibility) di kampung kami”.   

Di beberapa titik banyak kita jumpai papan peta yang memudahkan pengunjung untuk menjelajahi tiap sudut kampung tanpa tersesat.

Tiba-tiba ada beberapa wisatawan yang menyela obrolan asyik kami. Rupanya mereka tersesat jalan. Memang di kampung Kayutangan ini banyak gang atau jalan kecil bagai labirin. Untunglah setiap kita masuk area kampung, kita dibekali peta oleh petugas tiket. Dengan sabar Mas Iink menjelaskan posisi dimana mereka saat ini. Tak lupa Mas Iink juga mempromosikan interior dalam rumahnya yang penuh barang vintage untuk dijadikan spot foto. Mas Iink ternyata berprofesi sebagai seorang fotografer juga. Beberapa wisatawan itu akhirnya menjadi pelanggan pertamanya pagi ini. Sebelum saya berpamitan, saya menanyakan satu pertanyaan lagi, “Mas, apa rencana ke depan untuk mengembangkan kampung ini?” Sambil men-setting lampu studio miliknya, Mas Iing berujar dengan sumringah ”Saya ingin kampung ini jadi Planet Jadul, hari-hari tertentu mewajibkan warganya memakai baju tempo dulu dan anak-anaknya bermain dolanan tradisional.”

Setelah capek berkeliling dan berpanas-panasan, ingin rasanya menikmati segarnya semangkuk es aneka rasa. Dan keinginan saya terbayar lunas saat menjumpai sebuah kedai es sederhana di samping pintu masuk kampung. “Es Talun” namanya. Telah buka sejak tahun 1950. Cukup dengan membayar 12.000 rupiah, saya disuguhi semangkuk nikmat duniawi yang terdiri dari serutan blewah, potongan nanas, cincau hitam, dawet, ketan hitam, dan serutan es batu yang menggunung. Ah, segarnya…

Selamat datang di Planet Jadul, Kampung Heritage Kayu Tangan.

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.