READING

Wisata Religi Makam Gus Dur Tutup, Penghasilan Ped...

Wisata Religi Makam Gus Dur Tutup, Penghasilan Pedagang Terhenti

JOMBANG – Rutinitas Kusno, pedagang mainan di Kawasan Wisata Religi  Presiden RI ke 4 KH Abdurahman  Wahid dipastikan akan berubah.  Pria empat anak  yang biasa mangkal  di  pintu utama masuk komplek makam Pesantren Tebuireng harus mencari pekerjaan tambahan. Pasalnya, lapak yang biasa menjadi penyuplai rejekinya dipastikan sepi. 

Gerobak berisi aneka mainan adalah sumber penghasilan utama sejak sepuluh tahun terakhir.  Semenjak Gus Dur wafat dan komplek makam ramai dikunjungi peziarah dari pelosok negeri, Kusno memilih menggantungkan hidupnya dari jualan. Keuntungan sedikit tapi lumintu mengantarkan seluruh anaknya kini  mapan dan bekerja layak. Sedang satu anak bungsunya kini masih duduk di Sekolah Menengah Atas. “Kalau ramai sehari bisa bawa pulang uang 300 ribu,” ceritanya kepada Jatimplus.ID.

Setiap harinya pria  ini membuka lapak mulai pukul setengah enam pagi. Gerobak berisi aneka mainan dan aksesoris ini tutup saat malam hari. Saat dirinya capek toko biasanya digantikan oleh anaknya yang masih tinggal serumah dengannya. Rumah pria ini kebetulan tidak jauh dari lokasi jualan yakni masih di Dusun Tebuireng.

Mendekati bulan Ramadhan biasanya menjadi berkah dan rezeki melimpah para pedagang. Pada bulan ini tingkat kunjungan akan meningkat dan bahkan menjadi puncak kunjungan wisata religi. Biasanya satu bulan jelang ramadhan, yang kebetulan tahun 2020 jatuh pada Maret dan April, kunjungan wisata membludak. Peziarah dari berbagai pelosok negeri ingin berburu berkah dan berdoa di makam auliya dan pemimpin sebelum menjalani ibadah puasa dan lebaran.

Namun semenjak virus Corona menyerang negeri ini penghasilan pria ini berbalik seratus persen. Apalagi saat pihak Pondok Pesantren menutup akses peziarah yang biasanya menjadi sumber pembeli utamanya. Belum lagi ribuan santri yang berada di dalam  pesantren juga akan dliburkan, membuat dirinya harus mencari pekerjaan lain.

Di dalam komplek Pondok Pesantren Tebuireng ini ada tiga makam tokoh sentral NU. Yakni makam  Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari, pendiri organisasi massa terbesar Nahdlatul Ulama, kemudian putranya KH Wahid Hasyim yang juga pahlawan Nasional dan KH Abdurahmwan Wahid putra KH Wahid Hasyim atau cucu pendiri NU yang sekaligus presiden RI ke empat. Ketiga makam ini berada dalam satu komplek makam keluarga di dalam kawasan pesantren. Satu makam lagi pengasuh Pondok Pesantren KH Salahudin Wahid yang belum genap seratus harinya.

Selain keberadaan magnet barokah dari sejumlah tokoh NU ini, keberadaan  empat ribu santri  menjadi obyek berputarnya perekonomian warga sekitar. Pundi ekonomi warga terkatrol oleh dua sebab: peziarah dan santri. Jika wisata ditutup dan santri dipulangkan maka dipastikan hampir ratusan lapak yang bergantung dari mereka akan tutup. “Mulai hari ini santri sudah pulang semua dan pintu ziarah juga belum dibuka, terpaksa kami cari pekerjaan  lain,” keluhnya.

Kusno, salah satu pedagang berdiri di depan lapaknya yang sepi menyusul ditutupnya Wisata Religi Makam Gus Dur. Foto: Jatimplus.ID/Lufi Syailendra

Sebenarnya kondisi seperti ini sering terjadi dan pedagang sudah terbiasa, apalagi saat Ramadhan dan libur sekolah. Hanya saja, jika  biasanya libur hanya satu bulan saja saat bulan puasa. Namun musibah yang melanda negeri ini belum diketahui ujungnya. Tidak hanya peziarah, kepulangan santri ini juga belum ada batas waktunya sampai kapan. “Katanya libur sampai habis lebaran,” imbuhnya.

Kusno memang tidak sendiri, di kawasan wisata religi ini ada ratusan lapak dan ratusan warga yang menggantungkan hidup dari wisatawan religi Gus Dur. Sebut saja jasa foto dan cetak foto. Pedagang asongan dipastikan juga berhenti beraktifitas. Termasuk warung kopi, becak dan ojek yang biasa mangkal di sekitar wisata juga terhenti .”Di sini tidak hanya kios pedagang makanan, ada paguyuban jasa foto dan paguyuban cetak foto. Mereka semua menggantungkan hidup dari para peziarah makam,” ujar Tukiran kepala UPTD Terminal Kawasan Wisata Religi Gus Dur.

Tukiran menyebut semenjak penutupan wisata dilakukan Pihak Pesantren Tebuireng tanggal 16 Maret 2020 kemarin, seluruh aktifitas di kawasan ini sudah redup. Seperti paguyuban jasa foto dan cetak foto  sudah berhenti beroperasi.  Sedang lapak-lapak makanan dan asesoris sebagian buka dengan mengandalkan pembeli santri dan warga sekitar.  

Surat yang dikeluarkan pihak pesantren ini menyebutkan bahwa komplek makam Pondok Pesantren Tebuireng ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.  Penutupan ini dilakukan dalam rangka pencegahan penularan virus covid-19 yang sudah menyerang sejumlah daerah di negeri ini.

Sedang aktifitas terminal secara otomatis juga sepi tanpa pemasukan. Pihak terminal sudah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Olahraga Kabupaten Jombang. Dalam kondisi hari libur  atau week end ada sekitar  100 sampai 200  kendaraan  yang masuk ke terminal. Namun saat kondisi wisata ditutup jumlahnya turun drastis. Bahkan nyaris tidak ada kendaraan wisatawan yang masuk. Kalau ada hanya wali santri yang ingin berkunjung untuk menjemput anaknya di pesantren. “Pemasukan terminal jelas menurun drastis karena memang terminal ini ada untuk peziarah kawasan Wisata Religi Gus Dur,” tutupnya.

Sementara untuk aktifitas santri pondok pesantren pihak pengurus sudah mengumumkan  mulai tanggal 25 Maret 2020 ini wali santri segera melakukan penjemputan karena pembelajaran akan dilakukan di rumah masing-masing. Pesantren hanya akan menampung  santri yang berasal dari zona merah penyebaran virus Covid -19 atau  luar jawa. Santri yang sudah dijemput orangtua menjadi tanggungjawab orang untuk pengawasan belajar dan pencegahan virus corona. Pihak pesantren melalui pengajar akan  membimbing pembelajaran secara online atau jarak jauh.

Reporter: Lufi Syailendra
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.