READING

Wonosalam Siap Ramaikan Pasar Kopi Nasional

Wonosalam Siap Ramaikan Pasar Kopi Nasional

KEDIRI – Selama bertahun-tahun lereng Anjasmoro menjadi habitat tanaman keras. Durian, kakao, kopi, manggis, hingga salak tumbuh subur di punggung gunung yang berbatasan dengan empat kabupaten Jawa Timur.

Dari komoditas itu, kopi menjadi andalan sekaligus tumpuan mata pencarian masyarakat Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Ini lantaran hamparan terluas tanaman kopi di lereng Anjasmoro berada di wilayah Wonosalam. Sedangkan sisanya tersebar di kawasan Kediri, Mojokerto, dan Malang yang beririsan dengan kaki Anjasmoro.

Tak heran jika kopi Wonosalam saat ini mendominasi pasar biji kopi nasional. Selain produktivitasnya yang tinggi, varietas kopi Wonosalam cukup beragam. Mulai dari Robusta, Arabica, Liberika, dan Ekselsa dibudidaya petani kopi dengan turun temurun. “Sejak jaman Belanda kopi tumbuh subur di tempat kami,” kata Yayak, petani kopi asal Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam kepada Jatimplus, Sabtu 10 Nopember 2018.

Bersama sejumlah petani kopi yang tergabung dalam Asosiasi Kopi Wonosalam, Yayak mengikuti pameran produk rakyat di Kota Kediri. Membawa puluhan jenis dan kemasan kopi baik berupa biji (green bean) dan kopi siap seduh, Yayak memamerkan kekayaan kopi Wonosalam kepada pengunjung. Alhasil, stand kopi yang tak terlalu luas itu dipenuhi para penikmat kopi.

Menurut Yayak, kopi jenis Robusta menjadi andalan petani Wonosalam karena produktivitasnya. Dalam musim panen, produksi kopi di kecamatan ini bisa mencapai  5 ton per hari, dengan luas hamparan hingga ratusan hektar. Para petani lebih menyukai menanam Robusta karena pasarnya yang cukup luas.

Di luar itu masih ada jenis Arabica, Liberika, dan Ekselsa yang dibudidaya petani meski dalam jumlah terbatas. Minimnya pengetahuan tentang budidaya Arabica membuat mereka enggan meninggalkan Robusta. “Perawatan Arabica lebih rumit. Kadang tengkulak memberikan harga sama dengan Robusta,” kata Yayak.

Sadar akan keterbatasan kemampuan budidaya hingga penjualan, para petani Wonosalam membentuk asosiasi kopi. Meski masih berumur satu tahun, peran asosiasi cukup banyak bagi petani. “Kekayaan ragam kopi Wonosalam ini luar biasa. Apalagi ada varietas khusus yakni Ekselsa yang tak ditemukan di tempat lain,” kata Abdul Hakim Bafagih, salah satu penyokong Asosiasi Kopi Wonosalam.

Menurut Hakim, persoalan petani kopi bisa diselesaikan jika mereka bersatu dan berserikat. Selain berbagi pengetahuan soal produksi, mereka juga memiliki nilai tawar di hadapan tengkulak.

Saat ini dia tengah mendorong para petani untuk mengembangkan potensi alam yang ada, dengan memaksimalkan varietas unggul seperti Arabica dan Ekselsa. Arabica, menurut Hakim, memang memiliki karakteristik untuk urusan budidaya. Namun jika dipanen, harga jualnya jauh lebih tinggi dibanding Robusta. “Pasar Arabica juga masih luas hingga ke luar negeri,” kata calon legislator Partai Amanat Nasional ini.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar mencicipi kopi Wonosalam dalam pameran rakyat, Sabtu 10 Nopember 2018

Demikian pula varietas Ekselsa, yang selama ini masih ditanam sebagai sampingan atau pengisi lahan kosong milik warga. Tanaman kopi yang tak memerlukan ketinggian daratan ini akan disulap menjadi produk khas Wonosalam karena keunikannya.

Selain memiliki rasa yang unik, kopi Ekselsa juga memiliki daya adaptasi terhadap iklim dan serangan hama penyakit. Berbeda dengan jenis lainnya, cabang utama Ekselsa bisa bertahan lama dan seringkali berbunga pada batang yang telah menua atau batang pokok. Ketinggianya bisa mencapai delapan meter. Inilah yang menjadi persoalan para petani. Mereka kerap kerepotan dalam merawat ataupun memanen.

Untuk bisa menghasilkan cita rasa kopi ekselsa yang istimewa, selain proses produksi dan pengolahan yang baik, aturan penyeduhan menjadi faktor kunci. Kopi ekselsa harus diseduh dengan air mendidih langsung, bukan air panas dari dispenser termos.

Setelah diseduh dan diaduk, cangkir atau gelas ditutup selama 1-2 menit. Dengan cara ini kopi akan benar-benar “matang” saat diseduh dan akan menghasilkan endapan atau ampas di bagian bawah.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar yang menyempatkan berkunjung ke stand petani Wonosalam turut memberikan apresiasi. Apalagi kesadaran masyarakat untuk menkonsumsi kopi secara sehat makin terbangun. “Sekarang orang mulai meninggalkan kopi sachet dan beralih pada kopi rakyat,” kata Abu Bakar. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.