READING

World Photobook Day di Kediri, Bebaskan Kata dari ...

World Photobook Day di Kediri, Bebaskan Kata dari Makna

KPK (Kelas Pagi Kediri) merupakan komunitas fotografi di Kota Kediri yang didirikan tahun 2018. Saban Minggu mengadakan kelas (yang tak melulu pagi-pagi) tentang fotografi. Beberapa kali saya mengikuti, tapi bukan sebagai peserta tetap. Mentornya, atau biasa dipanggil kepala sekolahnya yaitu Adhi Kusumo, fotografer di Kediri yang sudah berpameran di beberapa kota termasuk Jakarta. Ia pernah menetap di Amerika. Kadang-kadang juga mendatangkan fotografer lain untuk berbagi. Tentu saja semua tentang fotografi. Kadang teknik memotret, kadang literasi fotografi.

Kali ini agak beda. Acara bincang buku ini merupakan rangkaian KPK Photo Book Day yang digelar dari tanggal 12-13 Oktober 2019 di Coffee Station, sebuah kafe baru di dekat stasiun Kediri. Bagi saya yang suka buku, bincang buku apapun selalu menarik. Apalagi ini bukan bedah buku namun para fotografer membincang buku yang inspiring. Jadi, ada kesan personal dari buku-buku yang dibahas.

Ichwan “Boljug” Susanto membahas buku “Two of Kind” karya Sandrine Kerfante (2016), 13/10/2019

Ah, ya, bagi ya saya penulis, kadang merasa “rugi” membeli buku foto. Sebab kesannya “cuman” gambar. Ini bukan maksud mengecilkan arti fotografi. Sama sekali tidak. Saya terbiasa membaca teks yang panjang sehingga tiap halaman menjadi lama untuk menikmati. Kalau menikmati foto hanya butuh waktu sesaat. Itu karena saya tak punya preteks tentang semiotika foto.

Tiap scene foto sama juga sebuah narasi yang utuh. Preteks dari masing-masing orang akan memberi makna. Preteks seseorang itulah yang akan mengurai dari sebuah scene foto yang dilihat. Bila punya preteks yang “tebal”, maka akan mampu memaknai sebuah gambar dengan sangat luas. Jadi, kisah yang dibangun bukan lagi pada tiap halaman foto, namun halaman-halaman foto yang memanggil kembali narasi yang mengendap di benak masing-masing para pembacanya.

Pengunjung sedang menikmati perpustkaan dadakan.

“Buku ini juangkrik,” kata Ichwan “Boljug” Susanto ketika membahas buku foto Two of Kind karya Sandrine Kerfante (2016). “Juangkrik” adalah kata untuk menunjukkan kekaguman. Bagi pecinta buku, tiap buku miliki kisah personal. Ketika melihat buku ini, Boljug kagum dengan pemaknaan kata kembar (twin) dalam buku ini. Makna umum, tentu kita akan disuguhi foto-foto orang yang terlahir kembar. Namun ternyata, konsep-konsep foto yang tak hanya menampilkan orang-orang yang terlahir kembar namun juga obyek yang sama dan berdampingan.

Tak hanya membahas soal foto secara konsep fotografi, Boljug juga membahas kisah terbelinya buku itu. Tentu saja, buku fotografi harganya lebih tinggi dibanding dengan buku-buku yang hanya menampilkan teks saja. Ini terkait dengan ongkos cetak yang lebih mahal.

“Yang bikin tambah ‘juangkrik’, ternyata foto ini tak semuanya difoto oleh Sandrine. Ia “hanya” nyomot dari karya fotografer lain,” tambah Boljug. Jadi, buku yang baginya mengejutkan dua kali yaitu secara konsep yang out of the box dan teknik pengerjaan yang “menipu”. Dua hal inilah yang membuat buku ini menjadi inspiratif. Tentu saja bukan karena keahlian menipunya, namun kekuatan ide dan benang merah untuk menghadirkan sekian karya dalam satu ide: kembar.

Buku, kopi, dan memaknai.

Pemaknaan satu kata tak lepas dari preteks dan konteks. Sandrine memaknai “kembar” dengan berbagai sudut pandang, pun ketika memaknai satu scene gambar. Sebagaimana yang disampaikan oleh Adhi Kusumo yang membawakan buku No-Copy Advertising karya Lazar Dzamic (2001). Adhi membeli buku ini setahun setelah terbit (2002) sesuai yang dicatat di halaman ke-dua buku itu. Ya, tiap buku punya catatan personal.

Buku bersampul merah ini hanya untuk pengantar menyampaikan pemaknaan dari gambar-gambar iklan yang ia sampaikan.

“Saya pernah kerja di advertising. Di sini saya ingin tebak-tebakan saja. Kalau gambar yang bisa ditebak, artinya iklan itu nyampai,” kata Adhi yang juga menggelar pameran foto di event yang sama, Indonesia Kecil di Tengah Kebun Pisang. Foto-foto yang berkisah tentang panti asuhan multi etnis di Lumajang, Jawa Timur.

Di presentasi yang dipaparkan, Adhi mengajak peserta untuk menebak makna iklan yang disampaikan oleh beberapa perusahaan besar dan NGO mulai dari Smirnoff, Vodka, Greenpeace, Unicef, dan lain-lain. Ada yang ketebak, ada yang tidak.

“Bila kita tidak bisa menebak ya tidak apa-apa. Bahasa iklan kan juga tergantung dari target market-nya,” terang Adhi. Kembali pada preteks dan konteks. Iklan-iklan yang ditayangkan merupakan iklan-iklan Amerika dan Eropa yang memiliki latar kultur berbeda dengan Indonesia. Kultur yang berbeda menghasilkan simbol-simbol visual yang berbeda pula.

Hanya saja, kebebasan berekspresi menghasilkan visual tetap saja punya pakem dasar. Dalam fotografi misalnya soal komposisi sebagaimana buku yang disampaikan oleh Arief Priyono, Komposisi Fotografi karya Prof. Dr. R.M. Soelarko (1990).

“Ini buku lama. Dijual di pameran dengan harga Rp 10.000,-,” kata Arief. Buku ini menampilkan dasar-dasar komposisi yang menjadikan sebuah foto enak dipandang dan dirasakan. Sebuah aturan yang disusun dari pengalaman visual meski tak harus ditaati dengan mutlak. Hanya saja, teori dasar tentu saja harus dikuasai seorang fotografer untuk menghasilkan karya dengan ekspresi yang tak terbatas.

Pameran foto “Indonesia Kecil di Tengah Kebun Pisang” karya Adhi Kusumo

Ada kata kunci dari para pembahas yang saya ingin garis bawahi yaitu tentang pemaknaan satu kata (yang kemudian menjadi tema sebuah foto). Satu kata tak bisa dimaknai tunggal tentu saja, meski KBBI sudah menuliskannya. Ada konteks. Ada preteks. Dan di negara yang menjamin kebebasan berekspresi warganya, tak seorang pihak pun berhak menguasai makna dari sebuah kata.

Hal ini mengingatkan saya pada obrolan di media sosial antara Tifatul Sembiring (mantan Menkominfo) dan Joshua Igho (penyair). Balas-balasan di Twitter itu cukup sengit ketika Tifatul memaknai kata “sembah” berkaitan dengan agama.

Bermula dari kicauan Tifatul yang menulis bahwa ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) biasa-biasa saja, tidak provokatif. Joshua menyaut: Mantan Menteri Yth. Bisa kita bikin referendum tentang sosok UAS. Kalau semua orang menyukai dia, saya akan menyembah Anda. Tifatul menjawab, usulan paling dungu yang pernah saya baca. Kok jadi menyembah saya, emang saya ini apa. Situ beragama nggak…??

Joshua menjawab, menyembah apakah harus dikaitkan dengan agama. Anda mantan menteri atau bukan? Kok tidak membebaskan kata dari makna.

Ya, membebaskan kata dari makna. Jika pemahaman makna kata menjadi demikian sempit maka kata-kata menjadi punya ideologi. Misalnya “menyembah” selalu identik dengan agama (Tuhan), pun “anarkis” menjadi kata ganti untuk “rusuh” padahal ada makna lain yaitu “salah satu paham kiri”, bahkan kata “ganyang” dimaknai sempit menjadi milik sosialis komunis. Begitu parah pemaknaan tunggal ini ketika dimiliki oleh benak yang punya potensi menyebarkan, semisal dia guru, tokoh publik, maupun selebritas.

Hemmm bagaimana jika kemudian kata “pulang”, apakah harus dimaknai tunggal perjalanan kembali dari bepergian? Bagaimana jika “pulang” sebagai “rumah” (home, yang bukan house?). Marilah memulangkan kata-kata…

Penulis: Titik Kartitiani
Foto: Adhi Kusumo

“Red Utopia” karya Jan Banning merupakan salah satu buku langka yang dipamerkan, menceritakan tentang jejak 100 tahun revolusi Rusia.
Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.