READING

Yang Terbaru di Banyuwangi, Wisata Napak Tilas Sej...

Yang Terbaru di Banyuwangi, Wisata Napak Tilas Sejarah Perjuangan 45

BANYUWANGI- Mengenang para pahlawan dengan menapak tilasi secara massif tempat bersejarah baru pertama kalinya dilakukan masyarakat Banyuwangi di peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019.

Sebagai penggagas Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudayaan Kejuangan ’45 Kabupaten Banyuwangi memberi nama acara “Napak Tilas Rute Gerilya Perjuangan ‘45”.  Mulai pelajar, mahasiswa, komunitas Orari, Gerontologi, Tagana, hingga TNI, hadir sebagai peserta dengan gaya bak laskar pejuang kemerdekaan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara khusus datang untuk melepas keberangkatan mereka. Menurut Ketua Panitia Napak tilas Made Maharta, sebelumnya Banyuwangi belum pernah menggelar hal serupa.

“Meski hanya dirancang dalam waktu satu bulan acara ini diharapkan dapat mengajak generasi muda mengenal sekaligus memahami perjalanan sejarah bangsa, “ujarnya.

Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Muspida, Bakesbangpol, serta Persatuan Purnawirawan AL, AD, dan Polri juga turut hadir memberikan dukungan.

Rute napak tilas meliputi Gedung Juang ‘45, TMP 0032, Makam Kyai Saleh Lateng, Pendopo Banyuwangi lalu kembali ke Gedung Juang ’45. Di setiap tempat bersejarah panitia menyiapkan pemandu yang kompeten.

Misalnya di TMP 0032, Ketua PPAL Banyuwangi (Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut) Yani Husaeni Efendi siap menceritakan peristiwa sejarah yang terjadi di tempat tersebut. Mulai tentang kontak senjata dengan Belanda yang memakai Landing Crfat Mechanized (LCM), soal gugurnya pahlawan ALRI 0032 hingga peresmian TMP Angkatan Laut RI 0032 oleh Presiden Soekarno (1950).

Dalam kegiatan napak tilas itu para peserta melakukan long march (jalan kaki) sejauh tujuh kilometer. “Ini salah satu cara memasyarakatkan kembali nilai perjuangan 45 dan itu merupakan misi kita, “kata Ketua DHC 45 Sumartini Moenaris.

Icaa, salah satu pramuwisata Banyuwangi memuji “Napak Tilas Rute Gerilya Perjuangan ‘45” sebagai kegiatan yang bagus sekaligus membawa nilai edukasi.

“Kita jadi ngerti rute atau tempat-tempat di mana para pahlawan kita memperjuangkan bangsanya. Apalagi hadirnya pemateri di setiap lokasi itu sangat menambah wacana kami, “tuturnya.

Berikut empat lokasi dari “Napak Tilas Rute Gerilya Perjuangan ‘45”.

Gedung Juang ’45

Gedung Juang ’45 berada di Jl. Veteran Nomor 1 Banyuwangi. Bersebelahan dengan Pasar Banyuwangi dan Taman Blambangan, Gedung Juang berdiri pada tahun 1930 dengan VOC sebagai pembangunnya.

Di zaman Belanda awalnya bernama Sekiti, yang gedung yang berfungsi sebagai kamar bola (biliar) sekaligus bar. Saat revolusi kemerdekaan 1945, Batalyon Hizbullah yang dipimpin H. Mohammad Arifin merebutnya.

Arifin kemudian mengalihfungsikan sebagai markas pasukan tentara Indonesia yang dipimpinnya. Pada tahun 1953 gedung itu berubah menjadi Kantor Perwira Distrik Militer (PDM) yang itu hanya berlangsung selama enam tahun.

Begitu tentara PDM angkat kaki, namanya berganti Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang pada tahun 1960 menjadi bagian (Unit) Universitas Jember dengan penyelenggara Pemda Banyuwangi. Gedung itu juga digunakan sebagai tempat kegiatan olahraga dan seni budaya.

Setelah direhab pada tahun 1982 sampai 1986, pengelolaan GNI diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi. Pada saat yang sama (1982), GNI beralih fungsi menjadi sekretariat Panitia Pemilihan Daerah (PPD) Kabupaten Banyuwangi untuk penyelenggaraan pemilu.

Di masa Bupati Joko Supaat Slamet, mantan Dandim 0825 (purna tugas pada tahun 1963), rehab GNI dilakukan dua kali dan setelah itu ditetapkan bagai Gedung Juang ’45. Peresmian dilakukan  Pangdam V Brawijaya Soewoto yang pensiun (Purnawirawan) dari TNI-AD pada 17 Agustus 1985.

Sejak itu Dewan Harian Cabang ’45 (DHC’45) berkantor di GedungJuang ’45. Hasil rapat DHC ’45 memutuskan 12 organisasi masyarakat yang berkaitan dengan kejuangan boleh berkantor atau menempati Gedung Juang ’45.

Rapat dipimpin Soewoko selaku ketua DHC’45 yang didampingi Bupati Djoko Supaat Slamet. Adapun organisasi masyarakat bagian keluarga besar DHC’45 diantaranya Pepabri, LVRI, PIVERI, Warakawuri, PPM, FKPPI, PPAD, PP AL, PP Polri.

Tugu TNI 0032

Tugu Taman Makam Pahlawan (TMP) yang terletak di bibir Pantai Boom merupakan tugu kenangan peristiwa pertempuran tentara laut NKRI yang dipimpin Letnan laut Sulaiman melawan AL, AD dan AU Belanda.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 21 Juli 1947. Ada sebanyak 17 orang yang dimakamkan. TMP 0032 diresmikan langsung oleh Bung Karno selaku Presiden Republik Indonesia.

Makam Kyai Saleh Lateng Banyuwangi

Kiai Saleh Lateng merupakan ulama yang berasal dari kampung Kelurahan Lateng Banyuwangi. Kiai Saleh dikenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya.

Pada masa perang kemerdekaan Kiai Saleh beserta para santrinya terlibat dalam pertempuran. Di lingkungan para ulama, Kiai Saleh dikenal bertipikal penggerak. Ia memiliki peran besar dalam mengkonsolidasikan  jaringan ulama-santri untuk berdakwah dan mengawal kemerdekaan Indonesia.

Kiai Saleh sekaligus menjadi sosok penting pada masa awal pendirian Nahdlatul Ulama. Yakni terlibat bersama Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan beberapa kiai lain di seluruh penjuru Nusantara.

Pendopo Banyuwangi

Pendopo Sabha Swagata Blambangan atau lebih dikenal dengan Pendopo Banyuwangi merupakan rumah dinas bupati sejak pemerintahan Bupati Joko Supaat Slamet. Bangunan lawas itu berdiri sejak era pemerintahan bupati pertamaTumenggung Wiroguno I atau Mas Alit.

Pendopo Sabha Swagata bersebelahan dengan Taman Sri Tanjung, yang dulu bernama Lapangan Tegal Masjid. Dulunya kawasan itu disebut sebagai kawasan dengan sistem pemerintahan macapat. Lapangan Tegal Masjid (Taman Sri Tanjung) menjadi tempat berkumpulnya warga atau kemudian dikenal dengan nama alun-alun.

Sebagai pusat pemerintahan posisi pendopo berada di sisi utara lapangan dan Masjid Jami’ atau Masjid Agung Baiturrahman di sisi barat lapangan. Sementara sisi timur berdiri penjara sebagai lambang keamanan (kini menjadi Mall Pelayanan Publik) dan Pasar Banyuwangi sebagai pusat ekonomi di sebelah selatan lapangan.

Sebuah sumur bernama Sri Tanjung berada di dalam pendopo yang ditemukan masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920 M). Sumur ini terbagi dua wilayah, yakni di sisi dalam pendopo, dan luar areal pendopo (KelurahanTemenggungan).

Sumur ini dipercaya sebagai cikal bakal nama Banyuwangi yang bermuasal dari cerita legenda. Sebuah kisah Sri Tanjung dan Sidopekso yang memuat pesan tentang asmara dan kesetiaan.

Seperti diketahui, kisah Sri Tanjung dan Sidopekso juga ditemukan di relief Candi Surowono, peninggalan Majapahit di wilayah Kabupaten Kediri.

Reporter : Suci Rachmaningtyas
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.