READING

“Zig Zag” Lion di Angkasa dan Sampel DNA Keluarga...

“Zig Zag” Lion di Angkasa dan Sampel DNA Keluarga

SURABAYA- Sebelum jatuh dan ditemukan remuk berkeping keping di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pesawat Lion Air JT 610 sempat mengalami terbang “zig zag”. Laju kecepatan pesawat yang mengangkut 189 penumpang itu tidak stabil.

Begitu juga posisinya  di angkasa. Dikutip dari liputan6.com, pada 13 menit setelah tinggal landas, ketinggian Boeing 737 Max 8 itu naik turun, sebelum akhirnya hilang kontak.

Berikut informasi 13 menit akhir sebelum Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan Tanjung Karawang.

  1. Pesawat take off dari Cengkareng pada pukul 06.20 Wib. Dalam waktu satu menit, yakni 06.21 Wib, pesawat langsung mengangkasa pada ketinggian 1.500 feet. Laju kecepatan pesawat 222 knots.

2. Satu menit kemudian, yakni 06.22 Wib posisi pesawat turun 1.475 feet. Namun laju kecepatan justru lebih kencang menjadi 327 knots.

3. Pada hitungan waktu 06.23 Wib ketinggian pesawat mencapai 4.250 feet. Sedangkan kecepatan melambat menjadi 280 knots.

4. Pukul 06.24 Wib  pesawat terus menanjak pada ketinggian 5.450 feet dengan kecepatan 294 knots.

5. Pukul 06.25 Wib pesawat sedikit turun pada ketinggian 5.025 feet dengan kecepatan yang juga turun 292 knots.

6. Pukul 06.26 Wib pesawat kembali naik pada ketinggian 5.100 feet dengan laju yang semakin cepat menjadi 319 knots.

7. Pukul 06.27 Wib posisi pesawat kembali naik pada 5.125 feet. Namun kecepatan turun 308 knots.

8. Pukul 06.28 Wib posisi pesawat lebih tinggi 5.250 feet dengan kecepatan 289 knots.

9. Pukul 06.29 Wib posisi pesawat turun menjadi 4.775 feet dengan kecepatan lebih kencang 311 knots.

10. Pukul 06.30 Wib pesawat kembali naik pada ketinggian 5.200 feet dengan kecepatan yang juga naik menjadi 334 knots. Pada saat ini pesawat telah mengalami kehilangan kontak.

11. Pada pukul 06.31 Wib berada pada ketinggian 5.450 feet. Ketinggian yang sama pada 7 menit sebelumnya (06.24 Wib). Sementara kecepatan mencapai 324 knots.

12. Pesawat tiba tiba turun pada ketinggian 3.650 feet dengan kecepatan 345 knots. Pada pukul 06.33 Wib pesawat dinyatakan jatuh di perairan Tanjung Karawang , Jawa Barat.

Hingga saat ini tim gabungan masih melakukan pencarian dan mengevakuasi  korban. Tim juga terus memburu keberadaan kotak hitam pesawat. Sejumlah kantong jenazah berisi potongan anggota badan korban telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

Melihat kondisi pesawat yang hancur, kemungkinan kecil penumpang bisa ditemukan selamat. “Ini keajaiban kalau ada yang hidup, “tutur pejabat Humas Basarnas Yusuf Latif.

Sementara Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang kedokteran dan Kesehatan Polda Jatim sudah mengambil tiga sampel keluarga korban yang berasal dari Jawa Timur.

Tiga sampel itu untuk mengidentifikasi korban Hesti Nuraini dan Tri Haska Hafidzi asal Kabupaten Blitar serta Alfiani Hidayati Solikah asal Madiun. Sampel DNA akan diantar ke RS Polri Kramat Jati Jakarta.

Sementara sampel DNA keluarga Deryl Fida Febrianto, yakni korban asal Surabaya  tidak diambil di Jawa Timur. Sebab pihak keluarga telah bertolak ke Jakarta. “Sampel keluarga Deryl akan diambil di Jakarta, “tutur Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera. Adapun sampel DNA yang diambil diantaranya darah, kuku dan rambut.

Pihak keluarga korban juga akan dimintai keterangan terkait ciri fisik korban. Diantaranya tanda lahir, bekas luka, tinggi, berat  dan foto terbaru. Benda yang dibawa atau dipakai sebelum berangkat juga akan digunakan untuk perbandingan data. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.